Dunia  santri adalah dunia yang unik dan penuh dengan aneka stigma dari masyarakat. Stigma jumud, kumuh, anti modernitas, sulit beradaptasi dengan kemajuan teknologi, kerap dialamatkan kepada kaum yang mendalami agama di pesantren-pesantren tersebut. Namun zaman sudah berganti, dan wajah santripun sedikit demi sedikit sudah mulai berubah menjadi lebih cerah, modern, dan kekinian. Santri masa kini sudah akrab dengan teknologi dan sudah lebih adaptif dengan perubahan zaman, namun tetap memegang teguh ajaran- ajaran agama Islam. 

Salah satu jendela yang membuka dunia lebih lebar bagi para santri adalah dunia literasi. Kemampuan menyerap informasi dengan cara banyak membaca berbagai literatur, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, adalah sebagian dari dunia literasi yang wajib dimiliki oleh  para santri, jika ingin mengimbangi kemajuan zaman di sekelilingnya, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai orang yang taat beragama.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi inilah SMA Pesantren Unggul Albayan mengikutsertakan para siswa/santrinya dalam ajang Santri Writer Summit 2017, yang pesertanya dipilih berdasarkan seleksi essay. Ini adalah kali pertama SMA Al bayan ikut serta dalam ajang bergengsi  tersebut. Alhamdulillah, essay karya Muhammad Husni Abdul Fatah (siswa/ santri kelas 11) , berjudul , Membangun Perdamaian Melalui Konsep Mabadi Khaira Ummah berhasil tembus ke tingkat nasional bersama 50 essay terpilih lainnya, menyisihkan ribuan essay yang dikirim oleh para santri dari seluruh penjuru Indonesia.

Santri Writer Summit 2017 sendiri adalah sebuah konferensi santri nasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Santrinulis bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah & Pontren Kementerian Agama RI sebagai salah satu agenda dari peringatan “Hari Santri Nasional 22 Oktober”.

Melalui acara ini juga, para santri didorong untuk terlibat dalam penyebaran pesan perdamaian melalui media literasi dengan memberikan valuable insight tentang santri dan tren literasi dalam era global ini. Tentunya, dengan pertimbangan  ingin memberikan wawasan kepada para santri (yang seringkali dianggap sebagai unit masyarakat tradisional) bahwa mereka juga memiliki kapabilitas untuk menjadi agen perubahan, salah satunya melalui media tulisan. (https://santrinulis.com/index.php/2017/10/05/santri-writer-summit/)

Acara ini akan berlangsung selama 2 hari, yaitu Sabtu sampai Minggu, 28-29 Oktober 2017, Di Universitas Indonesia, Gedung Pusat Studi Jepang, Depok, Jawa Barat, diikuti 50 peserta dari seluruh Indonesia.<